KUNCI
TERAKHIR
Tik! Tok! Tik! Tok! detik jarum jam
terus berputar seiring berjalannya waktu. Begitu lama terasa siang itu bagi
Nadira. Dia ingin segera pulang dan beristirahat dirumah. Sambil menyalin
tulisan yang dicatat oleh temannya dipapan tulis, ia pun berbaring di mejanya
dengan malas. Ntah kenapa hari itu Nadira merasa sangat malas untuk melakukan
apapun, sejak pelajaran pertama ia tidak pernah bicara sedikit pun dengan teman
sebangkunya sekaligus sahabatnya itu. Nadira Princesa atau biasa dipanggil Dira
itulah nama gadis yang sejak tadi terlihat muram. Wajahnya kusut dan
penampilannya sedikit berantakan hari itu.
Suasana kelas XII IPA 1 siang itu
sangat ribut, seisi kelas sibuk dengan kegiatannya masing-masing meskipun tugas
sudah diberikan oleh guru dan dicatat dipapan tulis, namun hanya segelintir
warga kelas yang memperdulikannya. Terlihat beberapa anak laki-laki dipojokan
kelas sedang tertawa cekikikan sambil
memandangi beberapa anak perempuan disekitarnya sehingga membuat suasana kelass
semakin gaduh.
“Dira kamu kenapa? Seharian ini kok
diam saja?” Tanya shinta teman sebangku Nadira sekaligus sahabatnya itu. Cukup
lama pertanyaan Shinta diabaikan sampai-sampai Shinta tak lagi berani untuk
bertanya kembali. “Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing” jawab Nadira singkat
dan tentu saja ia berbohong. Shinta hanya menatap nya sebentar dan ia
melanjutkan kembali aktivitasnya dengan banyak pertanyaan dikepalanya yang tak
berani ia tanyakan pada Nadira. Shinta adalah sahabat Nadira sejak pertama
mereka memasuki SMA, dan sejak itu mereka selalu bersama dan tak pernah pisah
kelas. Shinta tau bahwa Nadira sedang berbohong kepadanya, namun ia mencoba
untuk diam saja sampai Nadira siap untuk diajak bicara.
Bel
pulang sekolah akhirnya berbunyi,membuyarkan lamunan Nadira yang sejak tadi tak
pernah mendengarkan sedikit pun apa yang Bu Santi jelaskan. “akhirnya pulang
juga” batin Nadira. Seluruh siswa bergegas untuk pulang sambil tersenyum riang
tetapi tidak dengan Nadira. Wajahnya tetap kusut bahkan lebih kusut dari
sebelumnya. Nadira segera pergi keparkiran untuk mengambil sepeda yang ia parkirkan. Ia sempat melihat sekeliling
parkiran yang isinya ratusan sepeda motor yang berbaris rapi. “kapan aku punya
sepeda motor seperti mereka? Tidak susah-susah mengayuh sepeda butut ini terus.
Capek juga jadi orang miskin.” Keluh Nadira pada diri sendiri sambil berlalu
dengan mengayuh sepeda bututnya yang selalu setia menemaninya dari awal masuk
SMA.
Setelah
melewati perjalanan pulang yang cukup jauh, akhirnya Nadira sampai dirumah yang telah disambut senyum manis
Ibunya. “ Sudah pulang nak? Itu diatas meja sudah ibu sediakan makanan
kesukaanmu. Segeralah dimakan nanti keburu dingin.” sapa ibunya. “Dira tidak
lapar bu, dira mau langsung kekamar ” ucap Nadira dingin dan ketus. Ibu Nadira
tidak terlalu menanggapi serius tingkah anaknya itu, ia tahu bahwa mungkin
anaknya sedang lelah setelah seharian penuh belajar disekolah. Ibu Nadira pun
segera melanjutkan pekerjaannya yaitu membuat kue pesanan pelanggan. Nadira
adalah anak pertama dari Ibu Marti, ayahnya telah meninggal sebulan setelah
adik Nadira lahir karena kecelakaan sewaktu ingin menjemput Nadira pulang
sekolah. Sejak saat itu Nadira menjadi anak yang dingin dan tidak suka berteman
dengan orang banyak bahkan sering menyendiri. Nadira merupakan anak yang pintar
sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya, pada saat kejadian itu menimpa
dirinya, ia sangat terpukul bahkan tidak bisa menerima bahwa ayahnya telah
meninggal. Sampai saat Nadira masuk SMP , barulah ia sedikit demi sedikit mulai
menerima kenyataan. Namun, tingkah laku Nadira berubah menjadi lebih pendiam
lagi bahkan jarang untuk berbicara dengan orang lain.
Di
kamarnya, Nadira menangis dalam diam sambil memeluk foto ayahnya yang sangat ia
sayangi. Hanya kegiatan itulah yang dapat membuatnya tenang ketika masalah
datang menghampirinya. Tanpa sadar kegiatan itu sudah ia lakukan 3jam sejak ia
pulang sekolah dan sampai sekarang Nadira belum juga keluar dari kamarnya
padahal ia belum makan sejak pagi tadi. Matanya bengkak dan kepalanya pun
pusing karena menangis seharian dan hingga akhirnya ia tertidur lelap. Tok tok
tok! “dira, bangun nak sudah malam. Kamu masih tidur ya?” seru ibunya yang tak
kunjung dapat jawaban. Sedikit khawatir menghampiri hati Ibu Nadira, namun ia
mencoba untuk berfikiran baik tentang anaknya yang ia sayangi itu dan ia pun
kembali ke dapur dan berniat membangunkan anak nya nanti.
Di meja
makan sudah menunggu Fika adik perempuan Nadira, ia begitu ceria dan imut.
Sambil memainkan sendok dan garpu, ia pun bertanya pada ibunya mengenai
kakaknya itu “ibu, kakak dimana? Kok dari tadi fika belum melihatnya. Apa kakak
belum pulang sekolah?” tanyanya polos. Gadis imut itu baru berusia 10 tahun dan
bersekolah di kelas 5 sekolah dasar. “kakakmu sudah pulang sekolah sayang,
mungkin sedang mandi dan sebentar lagi kesini. Coba fika yang panggil kakak,
siapa tahu kakak langsung keluar kamar.” Jawab ibu dengan senyum manis “ iya
bu, fika ke kamar kakak dulu yah” dengan semangat fika langsung masuk ke kamar
kakaknya itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itulah yang selalu Nadira
tidak suka dari fika. Fika yang masuk tiba-tiba membuat Nadira sedikit terkejut
dengan kehadirannya,namun ia memilih tidak marah kepada adiknya karena ia tahu
itulah kebiasaan buruk adiknya itu,tapi Nadira memasang wajah kesal yang tak
sedikitpun di gubris fika.
“kak, ayo kita makan malam bersama,
ibu sudah lama menunggu dan aku sudah sangat lapar” ucap fika dengan polos dan
menarik tangan kakaknya. Sesampai di meja makan, Nadira pun hanya diam dan
duduk sambil menikmati makanan tanpa minat. “ bu, kapan aku dibelikan sepeda
motor? Aku capek setiap hari pergi dan pulang sekolah mengayuh sepeda butut
itu. Jarak rumah kita dengan sekolah dira kan cukup jauh bu. Dira juga malu
pada teman-teman dira yang hampir semuanya sudah pakai sedpeda motor” ucap dira
memecah keheningan makan malam. Ibu dira hanya terdiam mendengar pertanyaan dan
keluhan anaknya itu. Sejenak otaknya berfikir keras untuk memberikan jawaban
yang pas dan tidak menyinggung hati anak yang ia sayang itu. “maafkan ibu
nak,untuk saat ini ibu belum bias
membelikan dira motor,tapi ibu akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapat
uang yang banyak dari hasil penjualan kue ibu. Dan uangnya akan ibu tabung
untuk membelikan dira motor yang bagus” jawab ibu dengan senyuman manis yang selalu ia berikan kepada anak-anak yang
ia sayangi itu. “tapi bu, ibu sudah sering berjanji akan membelikan dira motor.
Dira gak minta banyak-banyak kok bu, dira Cuma mau motor dan itupun untuk dira
pergi kesekolah. Tapi ibu gak pernah ngerti perasaan dira. Seandainya masih ada
ayah. Pasti ayah akan memberikan apa yang dira mau” sahut dira sambil berlari
kekamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
Di meja makan, ibu dira sedang
menahan tangis karena apa yang anaknya katakan membuat hatinya kembali memutar
memori pada saat suaminya berada disisinya, dan ia merasa gagal membahagiakan
anaknya. Disamping itu, fika melihat kesedihan ibunya dan langsung memeluk erat
sambil menangis dipelukan ibu yang sangat ia sayangi. “ibu jangan sedih
ya,kakak mungkin sedang kesal atau banyak masalah” kata fika yang tiba-tiba
dewasa sebelum umurnya. Ibunya membalas pelukan fika sambil mengelus rambut nya.
Sedikit terharu dengan perkataan anak bungsunya yang sudah begitu mengerti
kondisinya.
Pagi-pagi sekali ibu Nadira
sudahpergi, tak ada yang tau kemana. Baik fika maupun Nadira saling bertanya
namun keduanya tak menemukan jawaban mereka. Namun anehnya sarapan sudah
lengkap di meja makan dan rumah pun sudah rapi dan bersih. Rasa bersalah muncul di hati Nadira teringat
kejadian semalam yang mungkin membuat sakit hati ibunya. Sebelum berangkat
sekolah, Nadira sempat menulis permintaan maaf di kertas kosong dan
diselipkannya di bawah gelas kosong dimeja makan.
Di sekolah pun Nadira lagi-lagi
merasa tak enak perasaan. Ntah apa yang terjadi dengannya atau
keluarganya,hatinya tetap tidak tenang selama pelajaran terakhirpun Nadira
semakin tidak konsentrasi belajar. Hingga akhirnya bel pulang berbunyi Nadira
merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya,sehingga membuatnya ingin
segera pulang kerumah dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sesampai
dirumah, tak ada seorang pun didalamnya yang membuat hati Nadira semakin tak
tentu. Fika mungkin sedang ada kegiatan ekstrakulikuler karate di sekolahnya,
tetapi ibunya? Nadira bertanya-tanya diaman ibunya. Sejak tadi pagi ia belum
juga melihat ibunya pulang dan keadaan rumah pun masih sama dengan kondisi saat
ia tinggalkan.
Nadira memutuskan untuk mencari
ibunya ke took-toko yang selalu ibunya datangi untuk mengantarkan pesanan,namun
taka da satupun dira mendapatkan jawaban tentang ibunya. Tiba-tiba handphone
Nadira bergetar dan terlihat nomor yang tidak diketahui sedang
menelponnya.”hallo? iya saya sendiri. Ada apa ya? i-i-ibu saya?” handphone
Nadira terjatuh menyusul jatuhnya tubuh kecil Nadira. Nadira pingsan setelah
mendapat telepon dari nomor yang tak dikenalnya, dan saat Nadira sadar dari
pingsannya,ia baru mengetahui bahwa ia sedang berada dirumah sakit dan seketika
itu pula ia langsung bangkit dari kasur dan keluar untuk mencari ibunya. Namun
Nadira tak kunjung menemukan ibunya di ruangan manapun. Lalu ia memutuskan
untuk bertanya kepada perwat yang sedang bertugas. Dan ternyata Ibunya sudah
meninggalkannya untuk sleamanya sekitar 5menit yang lalu saat ia pingsan
dijalan tadi. Tangis Nadira tak kunjung tertahan kan sampai-sampai ia merakan
lututnya lemah dan Nadira tak bisa bangkit lagi. Luka itu kembali terulang pada
sosok Nadira. Luka yang mengubahnya menjadi orang seperti ini, luka yang telah menyebabkan
orang yang sangat ia sayangi pergi lagi. Nadira benar-benar merasa tidak ingin
hidup lagi. Kedua orang tua yang sangat ia sayangi telah pergi meninggalkannya
dengan peristiwa yang sama. Kecelakaan lalu lintas. Betapa bencinya Nadira
mendengar kalimat itu. Kini ia hanya berdua dengan adik kesayangannya,hanya
berdua meraka harus menjalani kehidupan yang begitu keras. Nadira sangat
menyesal dengan tindakannya malam itu dan ia tak berhenti menangis. Lagi-lagi
Nadira menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah acara pemakaman Ibunya,
orang-orang telah pulang dan hanya tinggal Nadira dan Fika berdua disana.
Nadira memeluk erat adiknya dan ia berjanji dalam hati akan selalu menjaga
adiknya serta melindunginya sampai ia mati. Ia tidak ingin lagi kehilangan
orang yang sangat ia sayangi untuk yang ketiga kalinya. Mereka pun saling
memeluk erat dan menangis di sebelah makam ayah dan ibunya. Angin bertiup
kencang seolah membuat mereka semakin merasakan sedih yang mendalam.
Sesaat Nadira dan Fika ingin pulang
kerumah, mereka melihat polisi sedang menunggu meraka di depan rumah dan menghampiri
mereka. keduanya tampak bingung dan gugup. “saudari Nadira, kami menemukan ini
sesaat setelah terjadi kecalakaan pada Ibu nak Nadira. Mungkin ini sesuatu yang
penting,karena sebelum Ibu nak Nadira menghembuskan nafas terakhir beliau memegang
ini dengan erat” polisi itupun memberikan sebuah amplop kepada Nadira dan
mereka segera berpamitan untuk menjalankan tugas kembali.
Sepeninggalan polisi dari rumahnya,
Nadira segera membuka amplop yang tersebut dengan hati-hati. Dan pada saat ia
melihat isi dari amplop tersebut,tangis Nadira pecah dan tak tertahankan lagi.
Nadira meangis tak berhenti saat melihat kunci kecil dengan gantungan bernama
“Nadira” dan sepucuk surat yang berisi “Selamat Ulang Tahun
Nadira Princesa sayang, semoga kamu senang dengan hadiah ulang Tahun ke-17 dari
Ibu ini. Walaupun tidak seperti yang Nadira inginkan,tapi Ibu harap Nadira mau
menerima Hadiah Ibu. Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Sayang” . Nadira tak
bias lagi berkata apa-apa, dan hanya bisa menangis dan meyesali sesuatu yang
tak akan mungkin kembali lagi. Kunci motor itu ia peluk erat sambil merasakan
pelukan hangat ibunya yang dulu selalu ia dapatkan namun kini tinggal khayalan
.
Nadira juga baru sadar bahwa ia
berulang tahun hari ini, namun ulang tahun kali ini ia telah kehilangan
Malaikat titipan Tuhan yang sangat ia sayangi namun sempat ia buat bersedih.
Seorang Ibu yang tak bisa digantikan oleh siapapun namun bisa menggantikakan
siapapun. Hanya penyesalan yang tersisa dalam relung hati Nadira,namun ia tahu
bahwa Ibunya ingin ia menjadi anak yang bisa membanggakan dan ia berjanji untuk
tidak terpuruk lagi.
Beberapa bulan kemudian Nadira berdiri
di sebelah makam Ibu dan Ayahnya sambil memegang ijazah SMA yang sengaja ia
bawa. “Nadira datang Ayah,Ibu, Nadira udah lulus SMA dan Nadira mendapatkan
peringkat satu umum disekolah Nadira. Bahkan Nadira mendapatkan beasiswa
melanjutkan sekolah di Universitas yang sering Ayah ceritakan pada Nadira dulu.
Nadira janji Nadira akan menjadi sukses walaupun Nadira sudah terlambat untuk
membahagiakan Ayah dan Ibu tapi Nadira akan berusaha untuk jadi yang terbaik.
Semoga Ayah dan Ibu bahagia di Surga sana”. Nadira berdoa dan pulang diiringi
angin dan rintik hujan kesedihan.
-TAMAT-

0 komentar:
Posting Komentar