Selasa, 22 September 2015

CONTOH CERPEN

KUNCI TERAKHIR

Tik! Tok! Tik! Tok! detik jarum jam terus berputar seiring berjalannya waktu. Begitu lama terasa siang itu bagi Nadira. Dia ingin segera pulang dan beristirahat dirumah. Sambil menyalin tulisan yang dicatat oleh temannya dipapan tulis, ia pun berbaring di mejanya dengan malas. Ntah kenapa hari itu Nadira merasa sangat malas untuk melakukan apapun, sejak pelajaran pertama ia tidak pernah bicara sedikit pun dengan teman sebangkunya sekaligus sahabatnya itu. Nadira Princesa atau biasa dipanggil Dira itulah nama gadis yang sejak tadi terlihat muram. Wajahnya kusut dan penampilannya sedikit berantakan hari itu.
Suasana kelas XII IPA 1 siang itu sangat ribut, seisi kelas sibuk dengan kegiatannya masing-masing meskipun tugas sudah diberikan oleh guru dan dicatat dipapan tulis, namun hanya segelintir warga kelas yang memperdulikannya. Terlihat beberapa anak laki-laki dipojokan kelas sedang tertawa  cekikikan sambil memandangi beberapa anak perempuan disekitarnya sehingga membuat suasana kelass semakin gaduh.
“Dira kamu kenapa? Seharian ini kok diam saja?” Tanya shinta teman sebangku Nadira sekaligus sahabatnya itu. Cukup lama pertanyaan Shinta diabaikan sampai-sampai Shinta tak lagi berani untuk bertanya kembali. “Aku tidak apa-apa. Cuma sedikit pusing” jawab Nadira singkat dan tentu saja ia berbohong. Shinta hanya menatap nya sebentar dan ia melanjutkan kembali aktivitasnya dengan banyak pertanyaan dikepalanya yang tak berani ia tanyakan pada Nadira. Shinta adalah sahabat Nadira sejak pertama mereka memasuki SMA, dan sejak itu mereka selalu bersama dan tak pernah pisah kelas. Shinta tau bahwa Nadira sedang berbohong kepadanya, namun ia mencoba untuk diam saja sampai Nadira siap untuk diajak bicara.
                Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi,membuyarkan lamunan Nadira yang sejak tadi tak pernah mendengarkan sedikit pun apa yang Bu Santi jelaskan. “akhirnya pulang juga” batin Nadira. Seluruh siswa bergegas untuk pulang sambil tersenyum riang tetapi tidak dengan Nadira. Wajahnya tetap kusut bahkan lebih kusut dari sebelumnya. Nadira segera pergi keparkiran untuk mengambil sepeda yang  ia parkirkan. Ia sempat melihat sekeliling parkiran yang isinya ratusan sepeda motor yang berbaris rapi. “kapan aku punya sepeda motor seperti mereka? Tidak susah-susah mengayuh sepeda butut ini terus. Capek juga jadi orang miskin.” Keluh Nadira pada diri sendiri sambil berlalu dengan mengayuh sepeda bututnya yang selalu setia menemaninya dari awal masuk SMA.
                Setelah melewati perjalanan pulang yang cukup jauh, akhirnya Nadira sampai  dirumah yang telah disambut senyum manis Ibunya. “ Sudah pulang nak? Itu diatas meja sudah ibu sediakan makanan kesukaanmu. Segeralah dimakan nanti keburu dingin.” sapa ibunya. “Dira tidak lapar bu, dira mau langsung kekamar ” ucap Nadira dingin dan ketus. Ibu Nadira tidak terlalu menanggapi serius tingkah anaknya itu, ia tahu bahwa mungkin anaknya sedang lelah setelah seharian penuh belajar disekolah. Ibu Nadira pun segera melanjutkan pekerjaannya yaitu membuat kue pesanan pelanggan. Nadira adalah anak pertama dari Ibu Marti, ayahnya telah meninggal sebulan setelah adik Nadira lahir karena kecelakaan sewaktu ingin menjemput Nadira pulang sekolah. Sejak saat itu Nadira menjadi anak yang dingin dan tidak suka berteman dengan orang banyak bahkan sering menyendiri. Nadira merupakan anak yang pintar sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya, pada saat kejadian itu menimpa dirinya, ia sangat terpukul bahkan tidak bisa menerima bahwa ayahnya telah meninggal. Sampai saat Nadira masuk SMP , barulah ia sedikit demi sedikit mulai menerima kenyataan. Namun, tingkah laku Nadira berubah menjadi lebih pendiam lagi bahkan jarang untuk berbicara dengan orang lain.
                Di kamarnya, Nadira menangis dalam diam sambil memeluk foto ayahnya yang sangat ia sayangi. Hanya kegiatan itulah yang dapat membuatnya tenang ketika masalah datang menghampirinya. Tanpa sadar kegiatan itu sudah ia lakukan 3jam sejak ia pulang sekolah dan sampai sekarang Nadira belum juga keluar dari kamarnya padahal ia belum makan sejak pagi tadi. Matanya bengkak dan kepalanya pun pusing karena menangis seharian dan hingga akhirnya ia tertidur lelap. Tok tok tok! “dira, bangun nak sudah malam. Kamu masih tidur ya?” seru ibunya yang tak kunjung dapat jawaban. Sedikit khawatir menghampiri hati Ibu Nadira, namun ia mencoba untuk berfikiran baik tentang anaknya yang ia sayangi itu dan ia pun kembali ke dapur dan berniat membangunkan anak nya nanti.  
                Di meja makan sudah menunggu Fika adik perempuan Nadira, ia begitu ceria dan imut. Sambil memainkan sendok dan garpu, ia pun bertanya pada ibunya mengenai kakaknya itu “ibu, kakak dimana? Kok dari tadi fika belum melihatnya. Apa kakak belum pulang sekolah?” tanyanya polos. Gadis imut itu baru berusia 10 tahun dan bersekolah di kelas 5 sekolah dasar. “kakakmu sudah pulang sekolah sayang, mungkin sedang mandi dan sebentar lagi kesini. Coba fika yang panggil kakak, siapa tahu kakak langsung keluar kamar.” Jawab ibu dengan senyum manis “ iya bu, fika ke kamar kakak dulu yah” dengan semangat fika langsung masuk ke kamar kakaknya itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itulah yang selalu Nadira tidak suka dari fika. Fika yang masuk tiba-tiba membuat Nadira sedikit terkejut dengan kehadirannya,namun ia memilih tidak marah kepada adiknya karena ia tahu itulah kebiasaan buruk adiknya itu,tapi Nadira memasang wajah kesal yang tak sedikitpun di gubris fika.
“kak, ayo kita makan malam bersama, ibu sudah lama menunggu dan aku sudah sangat lapar” ucap fika dengan polos dan menarik tangan kakaknya. Sesampai di meja makan, Nadira pun hanya diam dan duduk sambil menikmati makanan tanpa minat. “ bu, kapan aku dibelikan sepeda motor? Aku capek setiap hari pergi dan pulang sekolah mengayuh sepeda butut itu. Jarak rumah kita dengan sekolah dira kan cukup jauh bu. Dira juga malu pada teman-teman dira yang hampir semuanya sudah pakai sedpeda motor” ucap dira memecah keheningan makan malam. Ibu dira hanya terdiam mendengar pertanyaan dan keluhan anaknya itu. Sejenak otaknya berfikir keras untuk memberikan jawaban yang pas dan tidak menyinggung hati anak yang ia sayang itu. “maafkan ibu nak,untuk saat ini ibu belum  bias membelikan dira motor,tapi ibu akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapat uang yang banyak dari hasil penjualan kue ibu. Dan uangnya akan ibu tabung untuk membelikan dira motor yang bagus” jawab ibu dengan senyuman manis  yang selalu ia berikan kepada anak-anak yang ia sayangi itu. “tapi bu, ibu sudah sering berjanji akan membelikan dira motor. Dira gak minta banyak-banyak kok bu, dira Cuma mau motor dan itupun untuk dira pergi kesekolah. Tapi ibu gak pernah ngerti perasaan dira. Seandainya masih ada ayah. Pasti ayah akan memberikan apa yang dira mau” sahut dira sambil berlari kekamar dan menutup pintu kamar dengan keras.
Di meja makan, ibu dira sedang menahan tangis karena apa yang anaknya katakan membuat hatinya kembali memutar memori pada saat suaminya berada disisinya, dan ia merasa gagal membahagiakan anaknya. Disamping itu, fika melihat kesedihan ibunya dan langsung memeluk erat sambil menangis dipelukan ibu yang sangat ia sayangi. “ibu jangan sedih ya,kakak mungkin sedang kesal atau banyak masalah” kata fika yang tiba-tiba dewasa sebelum umurnya. Ibunya membalas pelukan fika sambil mengelus rambut nya. Sedikit terharu dengan perkataan anak bungsunya yang sudah begitu mengerti kondisinya.
Pagi-pagi sekali ibu Nadira sudahpergi, tak ada yang tau kemana. Baik fika maupun Nadira saling bertanya namun keduanya tak menemukan jawaban mereka. Namun anehnya sarapan sudah lengkap di meja makan dan rumah pun sudah rapi dan bersih.  Rasa bersalah muncul di hati Nadira teringat kejadian semalam yang mungkin membuat sakit hati ibunya. Sebelum berangkat sekolah, Nadira sempat menulis permintaan maaf di kertas kosong dan diselipkannya di bawah gelas kosong dimeja makan.
Di sekolah pun Nadira lagi-lagi merasa tak enak perasaan. Ntah apa yang terjadi dengannya atau keluarganya,hatinya tetap tidak tenang selama pelajaran terakhirpun Nadira semakin tidak konsentrasi belajar. Hingga akhirnya bel pulang berbunyi Nadira merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi padanya,sehingga membuatnya ingin segera pulang kerumah dan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Sesampai dirumah, tak ada seorang pun didalamnya yang membuat hati Nadira semakin tak tentu. Fika mungkin sedang ada kegiatan ekstrakulikuler karate di sekolahnya, tetapi ibunya? Nadira bertanya-tanya diaman ibunya. Sejak tadi pagi ia belum juga melihat ibunya pulang dan keadaan rumah pun masih sama dengan kondisi saat ia tinggalkan.
Nadira memutuskan untuk mencari ibunya ke took-toko yang selalu ibunya datangi untuk mengantarkan pesanan,namun taka da satupun dira mendapatkan jawaban tentang ibunya. Tiba-tiba handphone Nadira bergetar dan terlihat nomor yang tidak diketahui sedang menelponnya.”hallo? iya saya sendiri. Ada apa ya? i-i-ibu saya?” handphone Nadira terjatuh menyusul jatuhnya tubuh kecil Nadira. Nadira pingsan setelah mendapat telepon dari nomor yang tak dikenalnya, dan saat Nadira sadar dari pingsannya,ia baru mengetahui bahwa ia sedang berada dirumah sakit dan seketika itu pula ia langsung bangkit dari kasur dan keluar untuk mencari ibunya. Namun Nadira tak kunjung menemukan ibunya di ruangan manapun. Lalu ia memutuskan untuk bertanya kepada perwat yang sedang bertugas. Dan ternyata Ibunya sudah meninggalkannya untuk sleamanya sekitar 5menit yang lalu saat ia pingsan dijalan tadi. Tangis Nadira tak kunjung tertahan kan sampai-sampai ia merakan lututnya lemah dan Nadira tak bisa bangkit lagi. Luka itu kembali terulang pada sosok Nadira. Luka yang mengubahnya menjadi orang  seperti ini, luka yang telah menyebabkan orang yang sangat ia sayangi pergi lagi. Nadira benar-benar merasa tidak ingin hidup lagi. Kedua orang tua yang sangat ia sayangi telah pergi meninggalkannya dengan peristiwa yang sama. Kecelakaan lalu lintas. Betapa bencinya Nadira mendengar kalimat itu. Kini ia hanya berdua dengan adik kesayangannya,hanya berdua meraka harus menjalani kehidupan yang begitu keras. Nadira sangat menyesal dengan tindakannya malam itu dan ia tak berhenti menangis. Lagi-lagi Nadira menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah acara pemakaman Ibunya, orang-orang telah pulang dan hanya tinggal Nadira dan Fika berdua disana. Nadira memeluk erat adiknya dan ia berjanji dalam hati akan selalu menjaga adiknya serta melindunginya sampai ia mati. Ia tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat ia sayangi untuk yang ketiga kalinya. Mereka pun saling memeluk erat dan menangis di sebelah makam ayah dan ibunya. Angin bertiup kencang seolah membuat mereka semakin merasakan sedih yang mendalam.
Sesaat Nadira dan Fika ingin pulang kerumah, mereka melihat polisi sedang menunggu meraka di depan rumah dan menghampiri mereka. keduanya tampak bingung dan gugup. “saudari Nadira, kami menemukan ini sesaat setelah terjadi kecalakaan pada Ibu nak Nadira. Mungkin ini sesuatu yang penting,karena sebelum Ibu nak Nadira menghembuskan nafas terakhir beliau memegang ini dengan erat” polisi itupun memberikan sebuah amplop kepada Nadira dan mereka segera berpamitan untuk menjalankan tugas kembali.
Sepeninggalan polisi dari rumahnya, Nadira segera membuka amplop yang tersebut dengan hati-hati. Dan pada saat ia melihat isi dari amplop tersebut,tangis Nadira pecah dan tak tertahankan lagi. Nadira meangis tak berhenti saat melihat kunci kecil dengan gantungan bernama “Nadira” dan sepucuk surat yang berisi “Selamat Ulang Tahun Nadira Princesa sayang, semoga kamu senang dengan hadiah ulang Tahun ke-17 dari Ibu ini. Walaupun tidak seperti yang Nadira inginkan,tapi Ibu harap Nadira mau menerima Hadiah Ibu. Sekali lagi Selamat Ulang Tahun Sayang” . Nadira tak bias lagi berkata apa-apa, dan hanya bisa menangis dan meyesali sesuatu yang tak akan mungkin kembali lagi. Kunci motor itu ia peluk erat sambil merasakan pelukan hangat ibunya yang dulu selalu ia dapatkan namun kini tinggal khayalan .
Nadira juga baru sadar bahwa ia berulang tahun hari ini, namun ulang tahun kali ini ia telah kehilangan Malaikat titipan Tuhan yang sangat ia sayangi namun sempat ia buat bersedih. Seorang Ibu yang tak bisa digantikan oleh siapapun namun bisa menggantikakan siapapun. Hanya penyesalan yang tersisa dalam relung hati Nadira,namun ia tahu bahwa Ibunya ingin ia menjadi anak yang bisa membanggakan dan ia berjanji untuk tidak terpuruk lagi.
Beberapa bulan kemudian Nadira berdiri di sebelah makam Ibu dan Ayahnya sambil memegang ijazah SMA yang sengaja ia bawa. “Nadira datang Ayah,Ibu, Nadira udah lulus SMA dan Nadira mendapatkan peringkat satu umum disekolah Nadira. Bahkan Nadira mendapatkan beasiswa melanjutkan sekolah di Universitas yang sering Ayah ceritakan pada Nadira dulu. Nadira janji Nadira akan menjadi sukses walaupun Nadira sudah terlambat untuk membahagiakan Ayah dan Ibu tapi Nadira akan berusaha untuk jadi yang terbaik. Semoga Ayah dan Ibu bahagia di Surga sana”. Nadira berdoa dan pulang diiringi angin dan rintik hujan kesedihan.

-TAMAT-

0 komentar:

Posting Komentar